loading...
Cahaya Tausiah - Sahabat, ternyata ada beberapa hal di dunia ini yang terlihat sepele dan kurang kita perhatikan namun itu sebenarnya akan menghantar kita masuk surga. Jika kita tidak melakukannya, kekecewaan dan termasuk orang yang merugi yang akhirnya kita rasakan di akhirat kelak.
Ini sebenarnya bukan hal yang sukar melakukannya, untuk itu sebelum kita menyesal, maka perhatikan kisah inspiratif berikut ini.
Saat akan berkutbah, Rasulullah saw terlihat menaiki mimbar. Waktu menginjak anak tangga pertama, beliau mengucapkan amin. Begitu pula saat menapaki anak tangga kedua dan ketiga. Namun beliau melaksanakan shalat terlebih dahulu. Seusai shalat para sahabat bertanya, mengapa Rasulullah mengucapkan amin? Beliau menjawab, “Tadi malaikat Jibril datang dan berkata, kecewa dan merugi orang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucap shalawat atasmu, lalu aku mengucap amin”.
Kemudian malaikat berkata lagi, “Kecewa dan merugi orang yang diberi kesempatan hidup bersama orang tuanya, tapi tidak sampai bisa masuk surga, lalu aku mengucapkan amin.”
Lalu kata malaikat lagi, “Akan kecewa dan merugi orang yang berkesempatan menemui bulan Ramadhan tapi tidak terampuni dosa-dosanya, lalu aku mengucapkan amin lagi”.
Rasulullah ingin menerangkan kepada umat, bahwa kita akan termasuk dalam orang-orang yang merugi dan kecewa, bila kita diberi kesempatan sebaik-baiknya untuk meraup pahala menuju surga, namun tak memanfaatkan secara optimal dikarenakan kebodohannya, ketidak tahuannya, atau keengganannya karena lebih suka memperturutkan hawa nafsunya bisa juga karena keingkarannya.
Peluang pertama ketika ada seseorang menyebut nama Muhammad, bagi kita adalah peluang untuk menyahutnya dengan membaca shalawat. Karena sebenarnya dengan membaca shalawat saat nama Muhammad disebut, maka pahala dan syafaat (pertolongan) dari Nabi saw untuknya.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Orang yang berilmu pasti tahu bahwa kelak di akhirat ada suatu masa dimana semua manusia akan mencari syafaat Nabi Muhammad. Orang yang terbiasa membaca dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah di masa hidupnya tentu akan mendapat prioritas atas syafaatnya. Orang yang tidak berilmu tidak memahami hal tersebut sehingga mereka lalai dan tidak melakukannya”
Karena dengan bershalawat adalah hal paling sederhana yang bisa dilakukan umat Muhammad sebagai tanda bukti cintanya, selain meneladaninya.
Peluang yang kedua adalah selama kita masih hidup bersama kedua orang tua kita adalah merupakan kesempatan emas untuk berbuat baik kepadanya, dengan menghindari segala sikap, perkataan dan perbuatan yang mengundang marah orangtua. Jauhi segala yang tidak mereka sukai selama itu buruk menurut agama.
Mintalah selalu keridhaannya, berbuat makruf, santun, tidak berbuat sesuatu yang mengecewakan mereka, membuat malu, namun diupayakan membuat mereka bahagia, ikhlas dengan segala perbuatan kita dan bangga menjadi orangtua kita. Dan hal seperti itu adalah orang yang beruntung untuk meraup pahala.
Namun bila seseorang telah berani mengecewakan dan menyia-nyiakan kedua orangtua, hingga saat mereka uzur seperti tak punya keluarga, merasa tak punya anak. Karena anak-anak mereka tidak memperdulikan orangtuanya sendiri, bahkan menganggap mereka itu menyusahkan saja, menjadi duri dalam daging, bahkan tega menitipkan ke panti jompo dengan alasan praktis dan tidak membuat ribet.
Dan inilah yang disebut orang yang kecewa dan merugi di hari kiamat, kesempatan emas untuk berbuat baik dan membalas budi kepada orang tua musnah sudah.
Dan yang terakhir adalah orang yang diberi kesempatan yang berharga menemui bulan puasa (Ramadhan), namun tidak mendapat ampunan Allah, juga tak merasakan berlipat gandanya pahala saat Ramadhan. Untuk itu selama nafas ada di badan, selama masih diberi kesehatan prima, selama panca indera kita masih normal untuk berucap sempurna, apalagi yang harus kita tunggu untuk menjadi manusia yang tidak merugi dalam tiga hal itu. (sumber: ummi-online)
Semoga bermanfaat.
Ini sebenarnya bukan hal yang sukar melakukannya, untuk itu sebelum kita menyesal, maka perhatikan kisah inspiratif berikut ini.
Saat akan berkutbah, Rasulullah saw terlihat menaiki mimbar. Waktu menginjak anak tangga pertama, beliau mengucapkan amin. Begitu pula saat menapaki anak tangga kedua dan ketiga. Namun beliau melaksanakan shalat terlebih dahulu. Seusai shalat para sahabat bertanya, mengapa Rasulullah mengucapkan amin? Beliau menjawab, “Tadi malaikat Jibril datang dan berkata, kecewa dan merugi orang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucap shalawat atasmu, lalu aku mengucap amin”.
Kemudian malaikat berkata lagi, “Kecewa dan merugi orang yang diberi kesempatan hidup bersama orang tuanya, tapi tidak sampai bisa masuk surga, lalu aku mengucapkan amin.”
Lalu kata malaikat lagi, “Akan kecewa dan merugi orang yang berkesempatan menemui bulan Ramadhan tapi tidak terampuni dosa-dosanya, lalu aku mengucapkan amin lagi”.
Rasulullah ingin menerangkan kepada umat, bahwa kita akan termasuk dalam orang-orang yang merugi dan kecewa, bila kita diberi kesempatan sebaik-baiknya untuk meraup pahala menuju surga, namun tak memanfaatkan secara optimal dikarenakan kebodohannya, ketidak tahuannya, atau keengganannya karena lebih suka memperturutkan hawa nafsunya bisa juga karena keingkarannya.
Peluang pertama ketika ada seseorang menyebut nama Muhammad, bagi kita adalah peluang untuk menyahutnya dengan membaca shalawat. Karena sebenarnya dengan membaca shalawat saat nama Muhammad disebut, maka pahala dan syafaat (pertolongan) dari Nabi saw untuknya.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Orang yang berilmu pasti tahu bahwa kelak di akhirat ada suatu masa dimana semua manusia akan mencari syafaat Nabi Muhammad. Orang yang terbiasa membaca dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah di masa hidupnya tentu akan mendapat prioritas atas syafaatnya. Orang yang tidak berilmu tidak memahami hal tersebut sehingga mereka lalai dan tidak melakukannya”
Karena dengan bershalawat adalah hal paling sederhana yang bisa dilakukan umat Muhammad sebagai tanda bukti cintanya, selain meneladaninya.
Peluang yang kedua adalah selama kita masih hidup bersama kedua orang tua kita adalah merupakan kesempatan emas untuk berbuat baik kepadanya, dengan menghindari segala sikap, perkataan dan perbuatan yang mengundang marah orangtua. Jauhi segala yang tidak mereka sukai selama itu buruk menurut agama.
Mintalah selalu keridhaannya, berbuat makruf, santun, tidak berbuat sesuatu yang mengecewakan mereka, membuat malu, namun diupayakan membuat mereka bahagia, ikhlas dengan segala perbuatan kita dan bangga menjadi orangtua kita. Dan hal seperti itu adalah orang yang beruntung untuk meraup pahala.
Namun bila seseorang telah berani mengecewakan dan menyia-nyiakan kedua orangtua, hingga saat mereka uzur seperti tak punya keluarga, merasa tak punya anak. Karena anak-anak mereka tidak memperdulikan orangtuanya sendiri, bahkan menganggap mereka itu menyusahkan saja, menjadi duri dalam daging, bahkan tega menitipkan ke panti jompo dengan alasan praktis dan tidak membuat ribet.
Dan inilah yang disebut orang yang kecewa dan merugi di hari kiamat, kesempatan emas untuk berbuat baik dan membalas budi kepada orang tua musnah sudah.
Dan yang terakhir adalah orang yang diberi kesempatan yang berharga menemui bulan puasa (Ramadhan), namun tidak mendapat ampunan Allah, juga tak merasakan berlipat gandanya pahala saat Ramadhan. Untuk itu selama nafas ada di badan, selama masih diberi kesehatan prima, selama panca indera kita masih normal untuk berucap sempurna, apalagi yang harus kita tunggu untuk menjadi manusia yang tidak merugi dalam tiga hal itu. (sumber: ummi-online)
Semoga bermanfaat.

0 komentar:
Posting Komentar